Tab Menu

Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sharing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2020

Melahirkan Ditengah Pandemi Covid-19 _ Part 3 (Selesai)

Lanjutan Part 2

     Hari pertama pasca operasi, kami lebih konsen untuk mencari tempat/lab yang melayani swab tes dengan cepat. Kami mendapat informasi dari saudara yang sudah pernah swab tes, bahwa ada lab yang prosesnya hanya 1-2 hari sudah keluar hasilnya. Memang harus mengeluarkan biaya sendiri yang tentunya lebih mahal, sedangkan jika lewat rumah sakit kami dirawat akan dikirim ke lab milik pemerintah gratis tapi memakan waktu sampai sekitar 2 minggu, baru keluar hasilnya. Kami tidak ingin digantung begitu lama. Bagaimana jika kami ingin bertemu dengan bayi kami? Bertemu si kakak?
     Akhirnya kami mendapat kontak lab tersebut. Tinggal menunggu Acc dari dokter spesialis paru, apakah kami diperbolehkan melakukan swab tes dari lab diluar rumah sakit ini. Malam harinya sang dokter baru visit, kami sampaikan rencana kami, dan jelas saja kami di Acc. Kami juga berkoordinasi dengan pihak lab rumah sakit, ternyata mereka siap membantu untuk pengambilan sample swab nya dan membantu mengkomunikasikan dengan pihak lab lain tadi. Ada yang menarik dari kejadian ini. Jika kami melakukan swab tes mandiri, langsung dengan lab lain itu, biayanya justru lebih mahal dibandingkan jika kami "disalurkan" melalui lab rumah sakit tempat saya dirawat.
     Keesokan harinya, tanggal 5 Mei siang, saya dan suami diambil sample untuk swab tes. Kenapa harus berdua? Bukankah yang menjadi PDP hanya saya? Pertimbangan kami, sehari-hari kami tinggal serumah. Bahkan beberapa hari sebelumnya suamilah yang sempat demam dan batuk, meskipun hanya 2 hari. Jika ternyata salah 1 dari kami ada yang positif, otomatis salah 1 yang lain menjadi ODP. Lalu bagaimana dengan si kakak yang sedang dititipkan? Dia juga harus dites kan. Keluarga saudara yang kami titipi? Harus dites juga, karena mereka kontak dengan si kakak. Setelah dilakukan swab tes, saya makin galau pusing jika memikirkan kemungkinan hal buruk itu. Rantainya jadi panjang.
Petugas lab sedang menyiapkan alat yang akan digunakan untuk mengambil sample swab
Pengambilan sample cairan di saluran pernapasan
Pengambilan sample cairan di saluran tenggorokan

     Tanggal 6 makin galau, sempat menanyakan hasilnya langsung ke pihak lab lain tadi, ternyata sampai malam hasilnya masih belum keluar. Kami masih harus menunggu sampai esok hari. Kamis tanggal 7, hari terakhir seharusnya saya dirawat pasca melahirkan. Saya diminta untuk ct scan torax lagi sebelum dibolehkan pulang. Saat itu, kata suster hasil swab kami belum keluar. Terlebih lagi hari ini tanggal merah. Haduh makin galau. Haruskah kami menunggu lagi?
Hasil CT Scan pasca melahirkan, Alhamdulillah sudah sehat
     Ketika saya mandi, suami menerima telepon entah dari siapa, yang ternyata dari bagian lab rumah sakit. Mereka memberitahukan bahwa hasilnya sudah keluar, tapi masih dalam bentuk soft copy yang akan dikirimkan via email. Untuk hard copynya belum diantar ke rumah sakit (bahkan sampai kami keluar dari rumah sakit pada hari itu). Bagi kami itu tidak begitu penting. Soft copy pun tidak masalah. Yang penting keterangan isinya. Inilah yang kami tunggu-tunggu sejak pertama kali masuk rumah sakit pada hari Minggu, tanggal 3 lalu. Hasil swab tes kami berdua dinyatakan NEGATIF Covid-19. Seketika plong, lega, syukur alhamdulillah kami dinyatakan negatif.

Hasil Swab tes Inge
Hasil Swab tes Aziz
      Meskipun kami juga merasa kecewa, bahwa saya dipaksa untuk operasi cesar, padahal masih belum tentu saya positif Covid-19. Tapi nasi telah menjadi bubur. Kami tidak bisa mengulang mengembalikan keadaan. Inilah qodar yang harus kami jalani. Semoga Allah ganti yang lebih baik dan lebih barokah. Kita semua diberikan kesehatan, dijauhkan dari virus Covid ini, dan Allah segera memusnahkan virus Covid dari bumi kita tercinta ini.
     Setelah mengetahui hasil kami negatif, rasa kangen dengan bayi kami makin tidak bisa dibendung. Saya ingin sekali bertemu dan menggendong bayi saya. Akhirnya waktu itu datang juga, kami bisa bertemu dengan bayi kami. Dan siang harinya saya sudah diperbolehkan untuk pulang.
Pertama kalinya menggendong bayi perempuan kami, pada hari keempat pasca melahirkan
     Terima kasih banyak atas waktunya, telah meluangkan waktu untuk membaca cerita pengalaman kami melahirkan ditengah pandemi Covid-19. Semoga tulisan ini bisa memberi manfaat bagi orang lain. Jika ada yang ingin ditanyakan, misal biaya paket bersalin di rumah sakit tempat saya melahirkan, nama lab tempat kami swab tes serta biayanya, atau yang lainnya, bisa DM ke email saya alitalya22@gmail.com. Mohon maaf tidak bisa saya sampaikan langsung pada tulisan saya ini. Harap maklum.
Sampai jumpa pada tulisan saya yang lain. Semoga sehat selalu..

Melahirkan Ditengah Pandemi Covid-19 _ Part 2

Lanjutan Part 1

     Sekitar pukul 11 malam, saya mulai diberi obat pereda nyeri lewat cairan infus. Katanya tidak langsung bereaksi, tapi berangsur-angsur. Sejam, dua jam, tiga jam, masih terasa sakitnya. Tidak ada berkurangnya. Sampai akhirnya suster datang lagi membawa obat pereda nyeri yang (maaf) dimasukkan an*s. Biasanya obat yang dimasukkan an*s itu reaksinya cepat. Obat diberikan sekitar pukul setengah 3 pagi, sekalian pemeriksaan dalam yang terakhir, ternyata sudah pembukaan 3. Setengah jam, tetap sakit, sejam masih sama, sampai waktunya sahur pun suami tidak saya perbolehkan pergi beli makan, karena harus menemani saya, mengusap-usap pinggang saya yang sakit saat kontraksi itu datang, hingga akhirnya dia hanya minum air putih tidak makan sahur.
     Obat yang dimasukkan an*s pun juga tidak mempan pada tubuh saya. Saya terus merasakan sakitnya kontraksi. Makin teratur, makin sakit, tapi saya harus cesar. Sakitnya itu dobel-dobel. Saya masih berharap ada keajaiban, pembukaan saya segera lengkap dan bisa lahiran normal. Namun itu tidak juga terjadi. Pukul 6 pagi saya sudah diminta ganti baju operasi. Rasanya dag dig dug. Ini pengalaman pertama saya operasi (semoga tidak pernah lagi). Pukul 7 kurang 10, suster mengantar saya ke ruang operasi dengan kursi roda. Suami hanya mengantar sampai depan pintu ruang operasi dan kembali ke IGD untuk istirahat. Saya tahu dia juga pasti lelah dan ngantuk karena tidak tidur semalaman menemani saya. Tidak lupa salim sama suami, cipika cipiki, kemudian saya masuk ruang operasi.
     Di ruang operasi saya langsung diminta untuk tiduran di meja operasi. Tapi tidak sampai 5 detik, kontraksi itu datang lagi. Saya ijin untuk duduk saja, sambil menunggu persiapan karena kalau dipakai tiduran, saya tidak kuat dengan sakitnya. Suster pun meng-iyakan, kemudian suster keluar lagi untuk mengurus persiapannya. Saya ditinggalkan sendirian di ruang operasi yang sangat dingin. Ruangan yang tidak pernah saya bayangkan untuk saya masuki. Saya melihat-lihat sekeliling sambil menggigil kedinginan. Ruangannya sangat terang, bersih, penuh perlengkapan operasi, dan sangat dingin.
     Sekitar 5 menit, para tim dokter dan suster masuk ruang operasi. Bersiap-siap memakai APD. Suster memeriksa dan menyiapkan perlengkapan operasi yang dibutuhkan. Di samping saya sudah mulai bertugas dokter anastesi dibantu asistennya. Saya mulai disuntikkan anastesi. Hingga terakhir kalinya saat saya diminta untuk berbaring, saya masih merasakan kontraksi untuk terakhir kalinya. Saat berbaring, rasanya perut mulai hangat, kemudian menjalar ke kaki. Hanya bius lokal perut ke bawah. Jadi tangan dan kepala masih sadar. Saya sempat bertanya pada dokter, “kok saya masih bisa merasakan ada sesuatu di atas perut saya ya dok? Kaki saya juga masih terasa jika dipegang”. (Saya takut kalau anastesinya belum benar-benar bereaksi, tapi dokter sudah membelek perut saya. Mulai parno sendiri kan). Kemudian dokter menjawab,” iya memang begitu bu. Ini masih terasa?” (sambil menyentukan entah apa ke perut saya). “Iya terasa”, jawab saya. Dokter tanya lagi, “itu tadi diapain bu?” “Nggak tahu dok”. “Coba sekarang ibu gerakin kaki, angkat kakinya, bisa ga?” Ternyata, “nggak bisa dok”. Dokternya ketawa. Baiklah, percaya saja sama dokter. Sambil terus baca doa-doa.
     Proses pengeluaran bayinya begitu cepat, sekitar 5 menit sudah keluar. Sebenarnya saya bisa lihat perut saya yang dibelek lewat pantulan papan lampu di atas saya, tapi daripada saya takut sendiri, saya lebih memilih menoleh lihat jam dinding. Setelah bayi saya dibersihkan, suster menunjukkan bayi saya sekilas, sambil mengatakan bayinya perempuan, beratnya xx, panjangnya xx. Sudah. Langsung dibawa pergi lagi untuk dimasukkan ke dalam inkubator. Itulah saat saya bertemu dengan bayi saya untuk pertama kalinya, dan baru bertemu lagi setelah 3 hari kemudian sebelum pulang keluar dari rumah sakit.
     Setelah itu saya tidak sadar, saya sangat ngantuk sekali karena hampir 24 jam tidak tidur. Tubuh bagian atas saya juga menggigil kedinginan karena suhu ruangan operasi yang menurut saya sangat dingin. Saya tertidur sekitar 30an menit, sampai saya terbangun saat akan dipindahkan ke ruang pemulihan, sekitar pukul 8. Di ruang pemulihan saya kembali menggigil, bahkan makin menjadi, karena efek dari bius itu tadi. Diselimuti tebal pun masih menggigil. Saya juga sempat muntah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tiduran tanpa bisa bergerak. Alhamdulillah ditolong dan dibersihkan oleh susternya. Kemudian saya kembali tertidur, kali ini lebih pulas. Baru bangun sekitar pukul 10, ketika akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Di ruang pemulihan
     Saya harus menggunakan ruang perawatan yang sendiri, karena status saya sebagai PDP. Artinya saya harus mengambil ruangan di atas kelas I, dengan kata lain kami juga harus membayar lebih, karena awalnya kami berencana untuk mengambil kelas I atau II.


Lanjut Part 3 >>>

Melahirkan Ditengah Pandemi Covid-19 _ Part 1

     Lama sekali tidak menulis di blog, cerita tentang program hamil. Terakhir saya cerita tentang promil dengan pijat. Entah memang itu jalannya atau memang sudah waktunya Allah kasih, Alhamdulillah saya berhasil hamil anak pertama. Anak pertama kami laki-laki lahir pada Maret 2018. Sekarang sudah berusia 2 tahun.
     Kali ini saya akan bercerita tentang proses melahirkan anak kedua saya ditengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda negeri kita. Alhamdulillah tanpa diduga, saya hamil anak kedua saat anak pertama masih berusia 16 bulan. Setiap anak pasti punya cerita perjuangannya masing-masing. Meskipun mendapatkannya tanpa diduga, tapi proses hamilnya juga punya cerita perjuangan yang cukup berat. Selama hamil, 4x mengalami pendarahan bahkan hingga usia hampir 5 bulan atau 20 minggu. Harus benar-benar bedrest, tapi tidak mungkin dilakukan karena kakaknya tetap minta bermain dengan bundanya. Alhamdulillah terlewati setelah usia 5 bulan, bahkan masyaAllah sehat banget.
     Entah memang bawaan bayi atau bagaimana, kebetulan anak kedua ini perempuan. Saya lebih rajin memasak, dibandingkan pada saat hamil kakaknya. Ditengah pandemi ini, saya juga terpaksa beberapa kali harus kontrol ke dokter kandungan sendirian naik motor, tanpa diantar dan ditemani suami serta sang kakak. Karena suami harus jagain kakak di rumah, sayang kalau harus mengajak balita ke rumah sakit. Padahal usia kehamilan sudah 38 minggu. Alhamdulillah semua dilancarkan.
     Ternyata cobaan kali tidak cukup sampai disitu saja. Tanggal 2 Mei siang, saya sudah mulai kontraksi dengan jeda setiap 15 menit sekali. Masih lumayan bisa ditahan. Masih bisa puasa juga. Hingga keesokan harinya, sudah sahur dan niat puasa, tapi kontraksi mulai meningkat. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak puasa hari itu. Sambil menunggu kontraksi makin teratur, suami menitipkan kakaknya dulu ke rumah pakdhenya. Maklum kami hanya tinggal bertiga, tanpa bantuan asisten rumah tangga, saudara, atau orang tua.
     Ditunggu hingga sore, kontraksi masih tetap belum teratur. Terkadang sudah 5 menit sekali, terkadang 10 menit, bahkan juga 15 menit. Namun kontraksi sudah mulai meningkat. Akhirnya ba'da Ashar suami mengajak saya pergi ke rumah sakit.
     Sesampai di rumah sakit, kami diarahkan ke IGD, bukan ke ruang observasi seperti biasanya. Saya di periksa dan ternyata masih pembukaan 1. Sambil menunggu, kami dijelaskan bahwa saat ini ada prosedur tambahan sebelum tindakan persalinan, selain cek darah lengkap, juga diwajibkan untuk mengikuti Rapid test dan Ct scan torax. Sekitar satu jam kemudian, hasilnya keluar. Suami diarahkan suster untuk menemui dokter yang jaga saat itu.
Saat dilakukan periksaan CTG
     Saat suami dipanggil dokter, perasaan saya mulai tidak tenang. Apakah ada sesuatu yang tidak baik pada saya? Saya terus berdoa semoga hasil pemeriksaan saya semua baik dan bisa segera lahiran normal. Semua ibu-ibu yang pernah melahirkan normal pasti tahu rasa sakitnya kontraksi. Rasanya pengen cepet-cepet keluar saja bayinya, biar tidak merasakan sakit lagi.

Hasil CT Scan Torax sebelum persalinan
     Suami kembali bersama saya, dia menjelaskan dengan sangat hati-hati. Karena dia paling tahu saya akan bereaksi seperti apa jika mendengar berita itu. Isi beritanya adalah alhamdulillah hasil lab saya semua normal, hasil rapid tes juga negatif, meskipun rapid tes itu kurang akurat. Yang jadi masalah adalah hasil ct scan saya ditemukan pneumonia di kanan kiri. Sehingga mengacu pada hasil ct scan itu, saya diharuskan untuk melahirkan secara cesar. Dokter dan rumah sakit tidak ingin kecolongan jika pasiennya ada yang positif Covid-19. Karena di rumah sakit tersebut hanya memiliki 1 ruang bersalin, yang digunakan bersama bagi orang-orang yang sehat.
     Saya dianggap PDP, padahal saya tidak ada gejala apapun. Demam, batuk, atau bahkan sesak napas pun juga tidak. Saya juga tidak pernah keluar rumah kecuali untuk berbelanja sayur. Rasanya saya tidak percaya jika saya terpapar Covid-19. Terlebih lagi yang membuat saya makin down adalah kenyataan bahwa karena saya ada pneumonia, saya harus melahirkan secara cesar. Kenapa saya yang ada pneumonia langsung dianggap PDP? Padahal pneumonia itu banyak jenisnya, banyak sebabnya. Tidak semua pneumonia itu Covid-19. Kenapa harus disamaratakan? Itu tidak adil.
     Kami berdiskusi cukup lama. Saya masih belum bisa terima jika saya harus melahirkan secara cesar hanya gara-gara ada pneumonia. Suami sempat memberi masukan agar saya melahirkan di tempat bidan. Tentunya di sana akan diusahakan lahiran normal dulu. Tapi disisi lain, saya tidak mau membohongi mereka dengan kondisi saya. Bagaimana jika benar saya positif Covid-19? Sama saja saya menularkan pada mereka. Sedangkan saat kami minta Swab tes ke rumah sakit, katanya hasilnya bakal lama. Karena prosesnya harus antri. Hasilnya baru keluar sekitar 2 minggu. Padahal saya bisa saja melahirkan malam ini juga atau mungkin besok. Tidak mungkin menunggu 2 minggu lagi jika ingin lahiran normal.
     Setelah diskusi cukup lama yang disertai drama air mata (lebay, biarin, memang itu kenyataannya), akhirnya kami memutuskan untuk menyetujui tindakan operasi cesar. Tapi dengan syarat, saya minta diberi obat penghilang rasa sakit dari kontraksi yang saya alami. Dokter pun juga menyetujuinya. Saya dijadwalkan operasi esok hari pukul 7 pagi.


Lanjut Part 2 >>>

Senin, 06 November 2017

Cara Menghapus App di iPhone, iPad, dan iPod Touch

     Kita biasanya sering install berbagai app, kemudian setelah dicoba dijalankan tidak sesuai dengan harapan kita. Kita install app lain yang sejenis. Jadilah banyak app sejenis terinstall di smartphone kita, padahal yang kita gunakan hanya itu-itu saja. Atau dengan alasan bosan dengan app itu sendiri. Pastinya kita ingin menghapus/uninstall app itu dari smartphone kita.
     Jika menggunakan smartphone berbasis Android itu sangat mudah dilakukan. Dapat langsung dihapus melalui menu utama, masuk melalui Playstore, atau juga melalui pengaturan manajemen app.
Berbeda dengan menghapus app di iPhone, iPad, atau iPod Touch. Cara menghapus app-nya adalah sebagai berikut:
  1. Sentuh dan tahan app perlahan hingga bergoyang.
  2. Klik tanda Close di sudut kiri atas app.
  3. Klik Hapus/Delete
     Jika kita menekan terlalu kuat pada app, mungkin akan membuka menu Sortcut/Tindakan Cepat app tersebut. Jadi klik di luar daftar Tindakan Cepat, kemudian dengan perlahan sentuh terus app tersebut untuk mencoba lagi.
     Jika iPhone kita mendukung 3D Touch, kita dapat membuka menu Berbagi jika menekan app terlalu kuat. Klik di luar menu Berbagi, lalu perlahan sentuh terus app tersebut untuk mencoba lagi.

Source:
https://support.apple.com/id-id/HT207618

Senin, 30 Oktober 2017

Beralih Antar App di iPhone, iPad, atau iPod Touch

     Suka beralih satu app ke app lain? Atau terkadang kita suka kembali ke app yang baru kita tutup. Kita bisa beralih dari satu app ke app lain dengan cepat menggunakan iOS. Saat beralih, kita bisa melanjutkan aktivitas terakhir yang kita lakukan.

Cara Beralih Antar App:
  1. Klik dua kali tombol Utama (Home) untuk melihat app yang terakhir kita digunakan.
  2. Geser ke kiri atau ke kanan untuk mencari app yang ingin kita gunakan.
  3. Klik app yang kita pilih.
     Langkah di atas berlaku pada iOS versi 11.0.3. Pada iOS versi sebelumnya, langkah nomor satu diganti dengan menekan layar tepi kiri dengan sedikit menahannya lebih lama. Maka app yang terakhir kita gunakan akan muncul. Kemudian langkah berikutnya sama.




     Sedangkan pada iPad, kita bisa melihat app yang terakhir kita gunakan dengan menggeser ke atas dari bagian bawah layar menggunakan satu jari. Namun jika keyboard yang kita gunakan terhubung ke iPad Pro, bisa menekan Command-Tab (Perintah-tab) untuk beralih antar app.

     Bagi kalian yang bingung setelah update iOS versi 11.0.3, ini solusinya. Semoga bermanfaat...

Source and Modified:

Rabu, 08 Maret 2017

ProgMil Part 13 - Femara

     Potongan cerita dan sharing promil kami ternyata masih berlanjut. Tamu yang tak diharapkan kembali datang. Otomatis pada hari kedua, kami harus kembali berkunjung ke dr. Marly. Berhubung mendapat nomor antrian ke-9, maka suami tidak mengambil ijin. Kami baru berangkat ke RS sepulang suami kerja, sekitar jam 5an sore. Pastinya jalanan lebih macet dari biasanya. Diperparah dengan hujan yang deras sekali. (*dijalan tidak berhenti berdoa selagi hujan dan dalam perjalanan. Berikanlah kelancaran dan kebarokahan disetiap usaha kami 😊 )
     Kami sampai dilantai 3 tempat dokter praktik saat adzan magrib berkumandang. Dalam kondisi kedinginan, kami menunggu antrian dan barulah kami dipanggil masuk ruangan sekitar jam 19.20. Hari ini dokter menyambut dengan hangat, tidak seperti biasanya. Kami langsung laporan, bahwa usaha kami masih belum membuahkan hasil dan belum jadi rejeki kami. Seperti biasa saya langsung diminta untuk persiapan USG. Dari hasil USG diketahui bahwa ke-4 telur yang bulan kemarin saya miliki, semuanya terjadi ovulasi/pembuahan alias pecah. Namun memang belum rejekinya.
     Berhubung bulan ini masih belum berhasil, maka sesuai janji dokter, dokter akan memberikan obat yang berbeda dengan sebelumnya. Kami sempat bertanya, bahwa sesuai jadwal yang disampaikan dokter 2 bulan yang lalu, harusnya bulan ini saya harus melakukan inseminasi. Namun kata dokter, dokter masih ingin mencoba satu kali lagi secara alami, untuk mengetahui respon obat yang diberikan pada saya, sebelum nantinya akan diberikan pada saat inseminasi.
     Saat ditanya apa persiapan yang harus kami lakukan sebelum inseminasi? Dokter menjawab, tidak ada. Kami hanya diminta menyiapkan dana yang akan digunakan untuk inseminasi. Ditambah lagi sebelum inseminasi, saya harus diminta untuk infus gamaras. Itu benar-benar membuat kepala cenut-cenut. 😃
     Kami juga diminta untuk merutinkan olahraga, diantaranya kami boleh olehraga sepeda, lari, berenang, dll. Gunanya agar peredaran darah lancar, sehingga supply oksigen di dalam darah juga lancar. Saya harus memperbaiki pola tidur, mengingat pola tidur saya sedang kacau. Tidak bisa tidur cepat, alias larut malam dan saat pagi hari selalu mengantuk, sehingga memaksa saya untuk tidur lagi pagi harinya. (*akan saya usahakan)
     Kami diminta kembali datang sekitar hari ke-11/12 haid, untuk melihat kondisi sel telur, kemudian akan diberikan obat lagi.
Obat yang diberikan:
1. Femara Tab 2,5 Mg (10) sebagai pengganti Profertil bulan lalu
2. Vitan Tab 250 Mg (10)
Saat menebus obat di farmasi, ternyata Femara sedang kosong di sana, sehingga kami harus menebusnya di luar.  Namun karena saat perjalanan pulang hujan, sesampainya di rumah kami baru ingat harus menebus obat di apotek. Terima kasih suamiku, yang mau rela hujan-hujanan demi cita-cita kita. Suami menebus obatnya di apotek Roxy. Harga obatnya cukup mencengangkan, yaitu Rp 721.000. Akhirnya suami menebus setengahnya terlebih dahulu, selagi akan menanyakan di apotek yang biasa kami datangi.
Femara 2,5 mg
Source: http://product-liability.laws.com/femara-lawsuit
Tetap semangat.. Sampai jumpa pada cerita berikutnya. Bagi yang ingin berbagi pengalaman di sini, sangat dipersilakan. Kita sama-sama berbagi informasi..

Sabtu, 18 Februari 2017

ProgMil Part 12 - Cek Sel Telur

     Sesuai dengan anjuran dokter pada haid kedua kemarin, hari Kamis ini kami kembali menemui dokter untuk cek sel telur. Waktu-waktu yang kritis, namun ternyata Allah sangat sayang dengan kami. Disaat seperti ini, suami malah demam. Bahkan setelah kami kontrol ke dr. Marly, suami harus masuk IGD RS. Sekali dayung 2 pulau terlampaui. Mumpung kontrol, sekalian berobat untuk suami. (*cepat sembuh ya mas suami.. )
     Pada kontrol sebelumnya, saya diberi obat Profertil. Kontrol kali ini akan dilihat, apakah sel telur saya reaktif terhadap obat tersebut atau tidak. Obat ini membantu mematangkan sel telur saya. Dan ternyata sepertinya sel telur saya sangat reaktif terhadap obat tersebut. Terbukti dengan hasil USG yang menunjukkan ada 4 telur yang berukuran besar-besar. 1 di kanan dan 3 di kiri. Ukurannya cukup besar, yang sebelah kiri saja 20 mm, 19 mm, dan 16 mm. Padahal kata dokter, diharapkan bisa 14 mm. Artinya itu sangat besar. Tidak dikatakan itu kelebihan ukuran/kebesaran atau tidak, tapi saya pernah baca kalau terlalu besar juga tidak baik. Yaah semoga saja tidak apa-apa..
     Dikatakan pula endometrium saya juga bagus. Kami diminta untuk berhubungan 2 atau 3 hari sekali. Semoga bulan depan tamunya sudah tidak datang lagi. Dokter memberikan resep Invitec yang diminum pada haid ke-12. Katanya obat ini bertujuan untuk membantu telur saya pecah sehingga bisa siap untuk dibuahi. Reaksi obat ini bisa menyebabkan mules/nyeri perut. Selain itu juga bisa menyebabkan pendarahan seperti haid. Namun alhamdulillah semua itu tidak saya rasakan. (lebih lengkapnya bisa dibaca di sini)
Invitec
source: http://www.kalbemed.com/Products/Drugs/Branded/tabid/245/ID/4085/Invitec.aspx
     Semoga bulan depan saat kontrol ke dokter lagi, sudah dengan kondisi yang berbeda dibanding sebulan ini. (*aamiin) Namun, jika tamu yang tidak diharapkan itu masih datang, kami diminta kembali datang pada haid kedua, untuk melihat kondisi sel telur saya. Apakah setelah diberi obat itu pecah atau tidak. Jika pecah, artinya terjadi pembuahan, kemungkinan bisa hamil. Kalau tidak pecah, artinya tidak terjadi pembuahan. Dan saya akan diberi obat lain lagi.. ☹
     Tak terasa dalam waktu kurang dari 1 bulan, kami sudah bolak-balik ke dokter sebanyak 5 kali. Diluar terapi yang saya lakukan selama 8 hari berturut-turut. Sekarang saatnya mempasrahkan semua pada Sang Pencipta.. Dia tahu kapan dan apa yang terbaik untuk hambanya. Hanya berharap semoga semua usaha dan doa kami ini dikabulkan olehNya, karena kita harus yakin, tidak ada usaha yang sia-sia.
Biaya untuk kontrol kali ini:
1. Obat-obatan Resep: Rp 185.800
    - Invitec Tab (4)
    - Utrogestan Tab 100 Mg/Lmp (10)
2. Konsultasi Dr. Sub Obsgyn Dr. Marly: Rp 297.000
3. USG Transvaginal: Rp 447.000

Jika ada bagi Anda yang punya pengalaman sama, sharing bareng yuk.. Berbagi pengalaman, informasi, nambah pengetahuan dan tentunya nambah teman. Tetap semangaaat...

Rabu, 08 Februari 2017

ProgMil Part 11 - Profertil

     Alhamdulillah masih diberi kesehatan, kesabaran dan semangat. Saatnya minggu-minggu yang menguras tenaga dan pikiran. Tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang lebih cepat. Itu artinya saatnya bertemu dengan dr. Marly lagi. Kemarin, hari kedua haid, apel dokter lagi ke Depok. Kebetulan kemarin jadwalnya barengan dengan jadwal kontrol dokter dari teman seperjuangan, tapi dia sudah sukses hamil. Ikut senang, semoga segera nular ke kami.
     Agenda hari ini hanya USG dan pemberian obat penyubur. Diharapkan bisa direspon dengan baik oleh sel telur saya, sehingga untuk tahap alami ini bisa berjalan dengan lancar. (*tanpa harus insem) Saya diberi 3 macam obat, diantaranya Profertil yang diminum mulai malam hari itu juga. Obat ini berguna untuk membantu mematangkan sel telur saya. Untuk USG, dokter tidak mengatakan apa-apa. Ada catatan di buku saya, tapi saya tidak dapat membaca catatan itu (*semoga normal sesuai dengan siklusnya)
     Kami diminta kembali datang pada hari ke-11/12 haid, untuk mengetahui respon dan kondisi sel telur saya setelah diberi obat tersebut. Tidak banyak penjelasan, hanya itu saja. Usaha dan doa selalu dipanjatkan untuk kelancaran ikhtiar ini. Semoga teman-teman di luar sana yang mempunyai cerita sama dengan kami, juga dilancarkan dan disegerakan. Jangan lupa bersyukur.. :-*
Berikut oleh-oleh kami pada kontrol kali ini:
1. Obat-obatan Resep : Rp 379.500
    - Cortidex Tab (20)
    - Profertil Tab/Ke @Dos (10)
    - Vitan Tab 250 Mg (10)
2. USG Transvaginal : Rp 447.000
3. Konsultasi Dr. Sub Obsgyn Dr. Marly : Rp 297.000
Obat Resep Dokter

Selasa, 31 Januari 2017

ProgMil Part 10 - Hidrotubasi II

     Hari ini, saatnya saya kembali ke dokter untuk melakukan hidrotubasi kedua. Jam 4 tepat, kami sudah sampai di RS Hermina Depok. Setelah melakukan pendaftaran, tak lupa saya mengambil hasil uji alergi di Laboratorium, masih di lantai 2. Kemudian daftar ulang di poli kebidanan umum di lantai 3. Seperti biasa saya di tensi  tekanan darah dan timbang berat badan.
     Sambil menunggu dokter yang baru datang jam 5 sore, padahal harusnya dokter praktik jam 4 sore, saya mencoba membaca hasil uji alergi saya. Alhamdulillah hampir semua pengujian, saya negatif, hanya saja ternyata saya ada alergi dengan tungau debu. Meskipun selama ini tidak pernah sampai mengganggu aktifitas saya. Jadi saya tidak perlu pantangan makanan-makanan tertentu. Saya hanya harus mengurangi dan menghindari makanan yang meningkatkan kolesterol. (*begitu pula yang dikatakan oleh dokter)
Hasil Uji Alergi
     Jam 5 tepat dokter baru datang. Saya langsung dipanggil oleh asisten dokter untuk dibantu memasukkan obat anti nyeri ke an*s saya. Kemudian saya diminta menunggu sekitar 3 antrian, sambil menunggu reaksi obat, supaya pada saat tindakan tidak mengalami sakit/nyeri.
     Giliran saya pun tiba, setelah masuk ruangan saya langsung diminta untuk persiapan hidrotubasi. Seluruh persiapan ini dibantu oleh asisten dokter. Sebelum tindakan dimulai, ternyata dokter mengetahui bahwa saya sedang keputihan. Katanya hal itu normal dialami setelah melakukan hidrotubasi. (*mulai keputihan terus menerus setelah hidrotubasi yang pertama minggu lalu) Saya hanya diminta untuk menggunakan obat yang sudah diberikan.
     Hidrotubasi pun dimulai. Entah kenapa prosesnyaa lebih lama dari pada hidrotubasi pertama. Mules,, sedikit saja. Setelah selesai tindakan, dilanjutkan konsultasi. Dimana kami diminta untuk kontrol kembali saat haid hari ke-2 atau ke-3 berikutnya, yang nantinya akan diberikan obat penyubur. Bulan depan ini akan dicoba secara alami dulu (*semoga dengan cara alami saja, saya bisa langsung hamil, tanpa harus inseminasi), karena jika bulan depan ini gagal secara alami, maka bulan berikutnya, yaitu sekitar bulan Maret, kami harus melakukan inseminasi yang sebelumnya harus dilakukan infus Gamaras untuk menurunkan ASA saya. (untuk mengingatkan kembali rencana program saya, bisa di klik di sini)
Rincian biaya kontrol hari ini:
1. Konsultasi Dr. Sub Obsgyn Dr. Marly : Rp 297.000
2. Hidrotubasi - Eksekutif : Rp 704.000

     Ada satu PR yang diberikan dokter untuk suami, yaitu PR klasik menurunkan berat badan. Obesitas dikatakan dapat menurunkan kualitas sperma yang dihasilkan, makanya suami harus bisa menurunkan berat badan, dengan cara mengatur pola makan dan olahraga minimal 3 kali seminggu. Memang susah siiih, tapi harus dilakukan demi kebaikan bersama.
     Dari pengalaman Hidrotubasi saya yang pertama, saya hanya merasa sedikit mules saat tindakan. Setelah itu tidak sakit sedikitpun. Flek sedikit, itu normal. Tapi untuk hidrotubasi kedua ini, saya tidak merasakan apa-apa saat tindakan, tapi pada saat perjalanan pulang dari RS, hingga keesokan harinya, perut terasa kaku. Dipegang pun sakit, tapi belum muncul flek. Baru setelah 3 hari muncullah flek (*edit). Sempat tanya ke dokter, itu masih normal karena pengaruh hidrotubasi. Reaksi seseorang itu bisa beda-beda, seperti yang saya alami sekarang.
     Hanya itu saja cerita saya hari ini. Saya akan kembali bercerita setelah saya kembali kontrol ke dokter sekitar minggu depan. Terima kasih telah membaca dan semoga bermanfaat.. Semangaaat...

Senin, 30 Januari 2017

ProgMil Part 9 - Diathermy

     Kali ini saya akan bercerita tentang terapi diathermy/diatermi yang saya lakukan. Sebelumnya, apa itu diatermi? Diatermi berasal dari kata "Dia" yang berarti dalam tubuh dan "Therm" yang berarti panas. Jadi Diatermi adalah pemanasan si dalam bagian tubuh untuk penyembuhan penyakit. Sedangkan alat/pesawat diatermi adalah suatu alat elektromedic yang digunakan untuk mengobati suatu penyakit tertentu dengan cara menggunakan efek panas. Untuk lebih detailnya informasi tentang diatermi, bisa klik di sini.
Alat Diatermi
Source: http://materi-sehat.blogspot.co.id/2011/07/diatermi.html
     Kita lanjut pengalaman yang saya alami yaaa... Saya diminta dr. Marly untuk terapi diatermi SWD selama 20 menit, sebanyak 7 kali yang harus dimulai tanggal, 23 Januari 2017 kemarin. Serta saya diminta untuk injeksi obat Ceftriaxone sebanyak 7 kali, dan ada 2 macam obat yang diminum. Sesuai rencana awal, saya akan terapi pada malam hari, karena menunggu suami pulang kerja. Namun, pada pagi hari dimana saya seharusnya akan berangkat terapi, saya baru sadar bahwa hari Sabtu, tanggal 28 Januari adalah tanggal merah. Banyak RS yang bagian Fisioterapinya tidak buka. Alhasil pagi-pagi sms asisten dr. Marly. Tidak terkirim. Fine. Akhirnya telepon ke RS Hermina Depok, konsultasi ke perawat siapa saja di poli kebidanan umum, karena asistennya sedang tidak piket. Dia janji akan meneruskan ke asistennya. Saya menanyakan "apakah terapi diatermi saya boleh bolong 2 kali? Jika tidak, apakah jadwal terapi saya boleh mundur minggu depan?" Dan jawabannya, saya tetap diminta untuk terapi sesuai dengan jadwal, tidak boleh bolong sebanyak 2 kali, hanya boleh bolong 1 kali. Saya juga diminta untuk cari RS yang Fisioterapinya buka pada hari Sabtu dan Minggu ini. Karena di RS Hermina Depok juga tutup.
     Rempong berlanjut, saya pun mengganggu kerja suami. Saya minta tolong dia untuk telepon beberapa RS, menanyakan hal di atas. (*bentar-bentar, rencana saya akan terapi di RS JMC, mengingat lokasinya yang cukup dekat dengan tempat tinggal saya. Kalau ke Depok terlalu jauh, ditambah lagi pasti macet pada pagi dan sore hari) Suami telepon ke RS JMC, RS Siaga, RS Hermina Bekasi, dan RS Hermina Jatinegara, didapatlah informasi bahwa RS JMC dan RS Siaga setiap Minggu dan libur nasional tutup. Sedangkan RS Hermina Bekasi Sabtu ini buka, serta setiap Minggu juga buka jam 8-12 siang. RS Hermina Jatinegara libur nasional tutup dan Minggu tetap buka jam 8-1.30 siang.
     OK, berarti saya hari Sabtu dan Minggu tetap bisa terapi. Hari Senin-Jumat terapi di RS JMC, Sabtu di RS Hermina Bekasi, Minggu di RS Hermina Jatinegara (*lebih depat daripada harus ke Bekasi lagi). Berhubung obat antibiotik itu harus diinjeksikan secara teratur, jika mengejar hari Sabtu dan Minggu yang siang, otomatis saya tidak bisa terapi pada malam hari. Saya harus berangkat sendiri selama 5 hari. Berikut ini, beberapa hal yang saya alami di setiap harinya:

Hari Pertama:
     Drama yang cukup panjang 😁
     Pada hari pertama ini saya ada satu resep yang belum saya tebus, karena saat saya tebus di RS Hermina Depok, stoknya sedang kosong. Akhirnya sebelum saya berangkat ke RS JMC, saya harus membelinya dulu, yang ternyata itu adalah Wing Needle No 25, sangat jarang ditemukan di apotek-apotek umum. Setelah beberapa apotek saya masuki, diberi tahulah oleh petugasnya untuk ke apotek Aji Waras di Cilandak, atau apotek-apotek RS. Berhubung lokasi apotek Aji Waras ini berlawanan arah dengan tujuan RS saya, saya langsung saja berangkat ke RS. Berharap di sana ada, atau jika tidak, mungkin bisa diganti dengan yang lain.>
Wing Needle No 25
     Sampai di RS JMC, saya langsung daftar untuk ke Fisioterapi. Saya ditanya apakah sudah ada pengantar, saya sodorkan pengantar yang saya bawa dari dr. Marly. Pengantar itu terdiri dari 2 lembar, yaitu 1 untuk diatermi, 1 untuk injeksi antibiotik. Berhubung saya tidak paham juga dengan isinya, saya meng-iyakan saja ketika hanya didaftarkan ke fisioterapi. Kemudian saya langsung menuju ruang fisioterapi di lantai 2. 
Surat Pengantar untuk Diatermi & Injeksi Obat
     Sekitar jam 10 saya masuk ruangan dan tidak ada yang mengantri, sehingga saya langsung ditangani. Bagian perut saya dipanaskan dengan alat diatermi selama 20 menit. Saat saya tanya untuk injeksinya, saya disuruh tanya ke IGD, karena biasanya untuk injeksi dilakukan di IGD, bukan di fisioterapi.  Tidak ada yang sakit saat diatermi ini, yang dirasakan hanya hangat saja.
     Lanjut ke IGD, saya tunjukkan pengantar untuk injeksi. Saya malah ditanya lembar pendaftaran ke IGD. Saya tidak diberi oleh bagian pendaftaran, saya hanya mendapat pendaftaran ke fisioterapi. Akhirnya perawat IGD yang mendaftarkan saya dan saya diberi tahu, besok lagi jika akan ke fisioterapi dan IGD, pendaftarannya ada 2. (*OK maaf, saya gak tahu, orang udah nyodorin pengantar, dikasihnya cuman 1 kok).
     Saya bilang ke perawatnya, "saya mau injeksi obat Ceftriaxone, ini pengantarnya. Ini obat-obatnya sudah saya tebus, tapi ada 1 alat yang belum saya tebus, barang kali disini ada". Kemudian saya suruh menunggu sambil tiduran. Perawat pertama datang bertanya pada saya. "Obat yang akan diinjeksi ini jika diencerkan dengan 10 ml maka akan lebih pekat dan tentunya akan lebih sakit" Saya ditawarkan untuk injeksi dengan cara diinfus, yaitu obatnya diencerkan dengan 100 ml cairan infus. Ini lebih tidak sakit, tapi butuh waktu lebih lama, sekitar 2 jam. Saya ingat teman saya yang sudah pernah injeksi ini katanya tidak sakit seperti yang perawat bilang kok. Akhirnya saya putuskan untuk injeksi langsung saja. Jika memang sakit, besok dan seterusnya pakai infus. Si perawat pertama pergi menyiapkan obat.
     Kemudian perawat kedua datang dengan membawa suntikan kecil, katanya itu mau digunakan tes alergi. Disuntikkan di bawah jaringan kulit (*tangan kiri). Ternyata itu sakit sekali, padahal jarumnya sangat kecil. Ditunggu beberapa saat untuk melihat reaksi alergi atau tidak, baru saya bisa diinjeksi. Tidak lama perawat pertama datang lagi. Dia melakukan tensi tekanan darah saya. Disusul dokter jaga di IGD saat itu. Tidak memeriksa apapun, dia hanya bertanya 3 pertanyaan: "Ibu keluhannya apa?" "saya ada hidrosalping" "Ibu baru melahirkan?" "belum dok, hamil saja belum" "Terus ini mau apa?" "mau injeksi obat dok" "owh yasudah"
Tes Alergi
      Setelah itu dokter pergi meninggalkan saya dan tidak muncul lagi saat saya diinjeksi. Berdasarkan tes alergi, saya tidak menunjukkan rasa gatal-gatal, hanya sedikit bengkak. Katanya itu normal bekas suntikan jarumnya. Jadi saya bisa langsung diinjeksi obatnya. Dan cuuzzz.. diinjeksi ke pembuluh darah di siku kiri saya. Saat proses injeksi, saya tidak merasa sakit apa-apa. Tidak seperti yang perawat bilang. Sakitnya hanya karena jarumnya saja. Setelah itu ngilu pegel kayak abis ambil darah. 
     Injeksi hari pertama selesai. Saya menuju kasir untuk bayar. Rincian untuk hari pertama sebagai berikut:
1. Fisioterapi
    SWD 20 menit : Rp 50.000
    Charge : Rp 5000
2. IGD
    Jasa Paramedis : Rp 20.000
    Pemeriksaan Dokter IGD : Rp 60.000
    Charge : Rp 15.000
    Obat/Alat Kesehatan (Wing Needle No 25) : Rp 12.500
     
     Saat perjalanan pulang, saya mampir ke apotek Aji Waras untuk membeli Wing Needle supaya besok dan seterusnya tidak perlu menebus di RS. Tak disangka ternyata di sana harganya lebih mahal, yaitu Rp 15.000 per buah. Akhirnya agar tidak sia-sia jalan jauh ke apotek ini, saya hanya beli  1 untuk besok. Seterusnya akan tebus di RS saja. 

Hari Kedua:
     Sebelum saya berangkat injeksi dan terapi di hari kedua, saya cerita ke teman saya yang sudah pernah menjalani terapi ini. Dia dulu masih mempunyai jarum yang saya butuhkan, lengkap 7 buah. Kata dia, dari pada dibuang akhirnya diberikan pada saya. Saya juga cerita tentang rincian pemeriksaan dokter IGD, padahal saya merasa tidak diperiksa oleh dokter. Dipegang saja tidak, apa lagi diperiksa. Hanya tanya jawab (*maaf saya juga tidak berniat konsultasi), tapi dimasukkan ke rincian biaya saya.
     Hari kedua datang juga. Saya daftar untuk ke fisioterapi dan IGD. Di fisioterapi, lancar tidak ada kendala apapun. Lanjut ke IGD. Masih dengan perawat yang sama dengan hari pertama saya injeksi. Saat perawat menyiapkan obat saya, dokter jaga datang menghampiri saya (*dokternya berbeda dengan yang kemarin). Seperti biasa, menanyakan keluhan dan maksud kedatangan saya ke IGD. Kemudian saya diminta untuk tes alergi lagi. Tapi saya jawab, "kemarin kan sudah. Saya tidak mau. Toh juga saya pernah 2 kali tes alergi, alhamdulillah tidak pernah menimbulkan alergi pada tubuh saya". Akhirnya dokterpun meninggalkan saya.
     Tidak berselang, perawat datang untuk tensi tekanan darah saya. Saya tanya, "tensinya buat apa?" "Buat memastikan tekanan darahnya stabil, jika terlalu rendah/tinggi, tidak boleh melakukan injeksi". (*owh) "Terus buat apa saya harus tes alergi lagi? Kan kemarin sudah. Normal kok." "Buat memastikan, dokternya hari ini kan berbeda dengan yang kemarin" (*hmmmm...saya hanya geleng-geleng kepala). Kemudian diinjeksi obatnyaa di pembuluh pergelangan tangan kiri saya. (*yang bekas lebamnya/biru masih tetap ada sampai seminggu setelah injeksi)
    Berlanjut ke kasir, berikut rinciannya:
1. Fisioterapi
    SWD 20 menit : Rp 50.000
    Charge : Rp 5.000
2. IGD
    Jasa Paramedis : Rp 20.000
    Pemeriksaan Dokter IGD : Rp 60.000
    Charge : Rp 15.000

     Lagi-lagi, ada rincian pemeriksaan dokter IGD. Saya beranikan bertanya pada petugas di kasir. Saya katakan, "dari kemarin saya tidak merasa diperiksa oleh dokter di IGD, tapi kenapa selalu ada tagihan pemeriksaan dokter? Selama di IGD, saya selalu ditangani oleh perawat. Palingan dokter cuma tanya-tanya saja". Saya kembali ditanya "Ibu ke IGD mau apa?" "Injeksi obat" "Ada pengantar?" "Ada dari dokter di luar JMC" "Owh memang begitu prosedurnya bu, jika ibu membawa pengantar dari dokter luar, akan ada evaluasi dulu oleh dokter IGD di sini, tidak bisa langsung tindakan. Sehingga ada biaya untuk dokter IGD" 
     OK, akhirnya saya tahu jawabannya. Kemudian malam harinya, ketika saya lewat depan tempat praktik Bidan dekat rumah, tiba-tiba saya berhenti. Saya ingin bertanya apakah bisa injeksi obat. Kalau di dekat rumah bisa, kenapa harus jauh-jauh? Apalagi kalau di kampung, ada kakak sendiri bidan dan suaminya juga perawat. Tidak perlu susah-susah injeksi ke RS. (*maklum ini di perantauan). Ternyata di praktik Bidan ini bisa. Saya diminta untuk membawa pengantar dari dokter, supaya tahu dosis dan cara injeksinya.

Hari Ketiga:
     Hari ketiga ini, saya mulai injeksi di bidan sekaligus uji coba, kalau sakitnya saat injeksi sama saja dan bisa lebih hemat, kenapa harus jauh-jauh ke IGD, ditambah sakit hati pula 😋
     Di tempat praktik bidan ini, saya diberi tahu akan diinjeksi menggunakan suntikan di sana, ukurannya juga sama. (*jarum No 25 itu kecil, bahkan disebut jarum bayi) Kalau saya pakai Wing Needle banyak obat yang terbuang di selang jarumnya. (*saya iyakan saja. meskipun saya sebenarnya sudah punya suntikan dan Wing Needle itu). Cuuzz, langsung masuk dan sama sekali tidak menimbulkan lebam. Artinya, besok dan seterusnya sampai hari ketujuh, saya akan injeksi ke bidan saja.
     Berhubung untuk waktu diatermi itu bisa bebas, maka saya lebih santai untuk berangkat terapi. Saya tetap terapi di RS JMC, tapi injeksi ke bidan (*ribet yaaa... 😃 ) Alhamdulillah terapi berjalan lancar, antri sebentar tidak masalah.
Rincian biaya hari ketiga:
1. Injeksi ke Bidan : Rp 35.000
2. Fisioterapi
    SWD 20 menit : Rp 50.000
    Charge : Rp 5.000

Hari Keempat:
     Seperti hari sebelumnya, saya pergi ke bidan untuk injeksi. Hari ini saya sudah koleksi 5 suntikan di tangan kiri saya. 4 suntikan ke pembuluh dan 1 suntikan ke bawah kulit. Semua ini demi menyambut anugerah dari Allah. Tidak ada cita-cita yang dapat kita raih dengan mudah, semua itu butuh perjuangan dan pengorbanan.
     Terapi diatermi saya lancar tidak ada masalah.  Rincian biaya hari keempat sama dengan hari ketiga:
1. Injeksi ke Bidan : Rp 35.000
2. Fisioterapi
    SWD 20 menit : Rp 50.000
    Charge : Rp 5.000

Hari Kelima:
     Berlanjut ke hari kelima. Sebelum saya terapi, saya injeksi dulu ke bidan. Berhubung saya sudah koleksi 4 suntikan di tangan kiri, dimana 2 diantara masih lebam dan 2 lagi kecil, maka terpaksa saya coba untuk injeksi ke tangan kanan. Dari awal memang pembuluh tangan kanan saya lebih kecil, ditambah lagi, kalau menimbulkan efek pegal, takutnya menggangu saya. Saya setiap hari harus pergi terapi mengendarai motor sendirian. Tapi setelah diperiksa pembuluh di siku lebih kecil, terpaksa bidan memilih pembuluh di punggung tangan. (*Lumayan ngilu-ngilu gitu buat ngegas motor 😃 )
     Lanjut terapi diatermi lagi, masih di RS JMC. Kali ini saya merasakan kepanasan pada bagian pinggul saya, sampai saya harus memanggil terapisnya. Padahal katanya suhunya tetap sama dengan yang kemarin-kemarin. Kemudian alatnya sedikit digeser agar pinggul saya tidak lagi merasakan panas. Barulah saya merasa nyaman.  Rincian biaya hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya:
1. Injeksi ke Bidan : Rp 35.000
2. Fisioterapi
    SWD 20 menit : Rp 50.000
    Charge : Rp 5.000


Hari Keenam:
    Berhubung pada hari keenam ini tanggal merah, dan seperti penjelasan saya sebelumnya di atas, saya akan terapi diatermi ke RS Hermina Bekasi. Karena hari ini hanya buka dari jam 8-12 siang, maka saya dan suami (*horee akhirnya diantar suami) berangkat pagi-pagi dan baru sampai di RS jam 9. Sesampai di RS, saya langsung daftar ke pendaftaran di lantai 2 dan menjelaskan maksud kedatangan saya. Hal yang kurang mengenakkan dimulai.
     Dikatakan oleh bagian pendaftaran, bahwa untuk hari ini tidak melayani terapi diatermi. Hari ini, fisioterapi hanya melayani bagi pasien yang sedang dalam perawatan. Jika pasien rawat jalan seperti saya tidak bisa. Ditambah lagi, saya pasien lanjutan dari RS lain, meskipun saya membawa pengantar dari dr. Marly yang notabene juga praktik di RS Hermina Bekasi, namun tetap tidak bisa. 
     Kami sempat menjelaskan juga, bahwa sebelumnya sudah telepon untuk konfirmasi dulu. Waktu itu dikatakan bisa. Itu yang mengatakan langsung dari bagian fisioterapi yang piket hari Senin pagi. (*saat itu telepon disambungkan ke bagian fisioterapi) Lagipula tidak mungkin kami datang jauh-jauh dari Pasar Minggu kalau sudah tahu tidak bisa. 
     Setelah menunggu cukup lama dan menimbulkan antrian, jawabannya tetap tidak bisa. Tapi kami dipersilahkan tanya langsung ke bagian fisioterapi di lantai 5. Ada sekitar 3 petugas di sana. Cukup lama kami dicuekin, mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, akhirnya kesempatan kami bicara. Kami jelaskan bla.. bla.. bla... dan jawabannya tetap tidak bisa. Semakin jengkellah kami. Kalau begitu, kami minta pertanggung jawabannya. Kami jauh-jauh ke Bekasi, sudah konfirmasi telepon jauh-jauh hari katanya bisa, sampai RS jawabnya tidak bisa. Kami merasa dirugikan. Bukan respon baik yang kami terima, kami malah ditanya, "siapa nama petugas yang menerima telepon?" (*mana kami tahu, setahu saya setiap telepon ke RS, tidak pernah petugasnya bilang namanya) Hingga ada salah satu yang berdalih bahwa pada hari senin dia piket sore, bukan pagi. Dengan sangat kecewa, saya menarik suami untuk pergi keluar. Kami pulang dengan tangan kosong. Semoga ada hikmah dibalik kejadian ini.
     Kami langsung pulang kembali ke Pasar Minggu dengan diiringi gerimis sepanjang perjalanan. ☹Kami langsung menuju ke bidan untuk injeksi keenam. Masih di tangan kanan yang berjarak hanya beberapa milimeter dari bekas injeksi kemarin. Jadi hari ini hanya injeksi saja, selanjutnya besok saya akan terapi ke RS Hermina Jatinegara. Saya tidak mau terapi di RS Hermina Bekasi.
Biaya injeksi ke bidan : Rp 35.000

Hari Ketujuh:
     Hari Minggu, hari ketujuh injeksi (*terakhir) dan hari keenam terapi diatermi. Terpaksa bolong 1 hari karena kejadian kemarin. Saya berangkat ke bidan sendiri tidak ditemani suami. Hari ketujuh ini sudah semakin menipis persediaan tempat untuk injeksi. Pembuluh darah saya yang besar-besar di tangan kiri masih lebam. Tersisa hanya yang kecil-kecil. Alhasil tusukan pertama tidak bisa masuk ke pembuluh (*gambar 7a). Pindah ke tangan kanan lagi yang nyaris menyerempet hari sebelumnya. (*finally lulus juga injeksi obat selama 7 hari)
Koleksi Tusukan Jarum
     Kemudian saya pulang untuk menjemput suami, kami pun berangkat ke RS Hermina Jatinegara. Kami sampai di RS sekitar jam 12 siang. Cukup ramah dan nyaman. Saya harus mengisi data diri pasien, karena baru pertama kali ke RS ini. Kemudian saya bisa ke fisioterapi di lantai 4. Petugasnya juga cukup ramah. Ruang fisioterapinya juga lebih bagus dari tempat terapi saya sebelumnya. Alat yang digunakan juga berbeda. Di RS Hermina Jatinegara ini menggunakan alat diatermi 2 area. 15 menit area kiri dan 15 menit area kanan. Tidak seperti sebelumnya, langsung menggunakan 1 alat selama 20 menit.
Rincian biaya hari ini:
1. Injeksi ke Bidan : Rp 35.000
2. Tindakan Fisioterapi
    SWD 2 area : Rp 101.000

Hari Kedelapan:
     Hari kedelapan ini terapi diatermi terakhir saya. Saya kembali lagi terapi ke RS JMC yang dekat rumah, karena saya harus berangkat sendiri. Ternyata alat diatermi yang digunakan di RS Hermina juga ada di RS JMC. Setelah saya cerita pengalaman saya di Hermina, petugas terapisnya menawari saya menggunakan alat yang sama itu. Tapi, saya kembali merasakan kepanasan pada pinggul saya. Kalau hari kelima, saya merasakan panas di pinggul kiri, hari ini saya merasakan panas di pinggul kanan. Akhirnya alat tersebut harus digeser sedikit. Selanjutnya aman dan lancar.
Biaya SWD 20 menit : Rp 55.000
     Semoga setelah menjalani terapi diatermi dan injeksi obat Ceftriaxone ini, hidrosalping saya bisa hilang dan saluran tuba saya bersih. Hari Selasa besok, kembali ke dokter untuk menjalani hidrotubasi kedua. Semoga selalu diberi kelancaran dan kesabaran dalam menjalani skenario dari Allah ini. 
Alat yang tidak jadi dipakai/sisa
     Saya berbagi cerita pengalaman promil saya ini, bukan berarti saya berniat pamer/sombong. Murni saya ingin berbagi pengalaman dan informasi, barang kali teman-teman di luar sana punya skenario hidup yang sama dengan saya. Saya pernah galau dengan kondisi saya yang belum juga dikaruniai keturunan. Setelah saya baca-baca di internet, ternyata saya tidak sendiri. Banyak pula yang lebih parah dari saya. Tapi mereka tidak pernah putus asa, hingga akhirnya mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk mempunyai keturunan. Kuncinya tetap berdoa dan berusaha, semua pasti ada jalan.

     Terima kasih telah membaca cerita saya, semoga bisa bermanfaat khususnya bagi yang membutuhkan informasi seperti ini. Nantikan cerita saya berikutnya. Tetap semangaaat... 💪

Sabtu, 21 Januari 2017

ProgMil Part 8 - Histeroskopi & Hidrotubasi

     Seperti janji saya sebelumnya, pada postingan kali ini, saya akan sharing tentang histeroskopi dan hidrotubasi yang saya lakukan kemarin. Sebelumnya, apa itu histeroskopi? Histeroskopi adalah tindakan dimana histeroskop akan dimasukkan ke dalam vagina yang akan digunakan untuk memvisualisasikan lapisan dinding rahim. Tindakan ini biasanya dilakukan untuk memeriksa kondisi rahim, saluran indung telur, serviks, jalur serviks, dan vagina dari tanda-tanda tidak normal, serta juga dapat digunakan untuk melakukan pembedahan invasif minimal (untuk lebih lengkapnya bisa di baca di sini). Lalu, apa itu Hidrotubasi? Hidrotubasi adalah salah satu cara untuk memeriksa dan mengobati kebuntuan saluran telur. Cara pemeriksaannya adalah dengan memasukkan cairan yang mengandung antibiotik dengan alat yang disebut hidrotubator, melewati vagina ~ mulut rahim ~ leher rahim ~ rahim ~ hingga saluran telur untuk lebih lengkapnya bisa di baca di sini).

     Lanjut yaaa.. Ke dokter kali ini terpaksa berangkat sendiri tanpa suami, karena suami harus kerja. Gak enak kalau harus ijin lagi, kemarin sudah ijin setengah hari. Kemarin, saat daftar untuk periksa hari ini, perawatnya berpesan agar datang 1 jam sebelum tindakan. Jika dokter praktik jam 10 pagi, maka saya harus datang jam 9. Karena ada obat yang harus dimasukkan ke tubuh saya sebelum tindakan. Saya sampai tepat jam 9 pagi. Setelah sekian lama menunggu sendirian tanpa suami, akhirnya datanglah sang dokter sekitar jam 10.30.
    Barulah saya dipanggil perawat ke sebuah ruang pemeriksaan. Saya pikir saya akan masuk ke ruang dokter duluan, seperti pemeriksaan sebelumnya. Saya mendapat nomor antrian pendaftaran ke-8, yang ternyata sistem nomor antrian di poli eksekutif ini tidak sama dengan poli kebidanan umum. Saya dipanggil perawat untuk dibantu dimasukkan obat pereda nyeri melalui an*s. Kemudian saya diminta menunggu lagi. Saking lamanya menunggu, saya sampai buang air 2 kali. Baru sekitar jam 12.40 saya dipanggil masuk ke ruang pemeriksaan dokter. Perasaan saya semakin tidak karuan, takut masuk sendiri, takut sakit, takut hasilnya kurang baik, >.<
     Baru saja saya nongol ke ruangan, dokter langsung minta saya untuk segera bergegas siap-siap tindakan (*saya sudah siap dok..sampai saya ngantuk dan kelaperan nungguin :( ). Ruangan dr. Marly di poli eksekutif ini cukup besar jika dibandingkan dengan ruang periksa dokter kandungan di poli eksekutif ini. Ruangannya paling ujung, peralatannya saya liat cukup lengkap. Tidak seperti ruang dr. Marly di poli eksekutif di RS Hermina bekasi.
     Saya dibantu oleh perawat untuk bersiap-siap. Setelah semua peralatan siap dan saya pun sudah siap pada posisinya, dokter masuk. Semakin gugup dan malu. Akhirnya untuk mengurangi ketegangan, saya bercanda dengan dokter dan perawatnya. Saya bertanya pada dokter, akan sakit gak dok? Kata pasien sih cuman mules dikit, gak kayak HSG. tapi kalau sakit, ya salahin aja pasien yang ngomong itu, orang dokter gak pernah ngrasain. Waduh...
     Tindakan yang pertama adalah histeroskopi. Dokter memasukkan semacam pipa sebesar bolpoin, yang panjangnya mungkin ada sekitar 30cm, dilengkapi dengan kamera untuk melihat rahim saya. Tidak butuh waktu lama, katanya rahim saya normal, bersih (*alhamdulillah). Rasanya biasa aja, mules-mules sedikit. Kemudian langsung dilanjutkan hidrotubasi, yaitu dengan memasukkan antibiotik. Rasanya juga sama, gak sakit. Sudah.. Tidak sampai 10 menit, padahal saya menunggunya 3,5 jam.
     Kemudian saya disuruh bersih-bersih. Jangan lupa, jika Anda akan melakukan histeroskopi atau hidrotubasi, Anda harus bawa pembalut. Karena biasanya akan muncul flek setelah tindakan. Setelah itu saya menyampaikan ke dokter bahwa saya ingin terapi untuk ASA nya ke dokter saja, biar fokus 1 dokter dan 1 tempat. Untuk itu, jika diperlukan tes alergi, saya mau tes alergi di RS ini saja. Okay, dokter setuju.
     Di poli eksekutif ini kita benar-benar dilayani dalam satu tempat, mulai pendaftaran pasien, pembayaran, memasukkan obat, menebus obat, bahkan jika Anda akan cek laboratorium, petugas yang akan menghampiri Anda. Tentunya memang harga bawa rupa. Namun untuk saya kali ini, saya sendiri yang pergi ke laboratorium, karena sekalian pulang dan tanya-tanya disana.
     Saya pindah ke lantai 2, setelah menunggu sebentar saya dipanggil untuk ambil darah. Hasil akan selesai dan bisa diambil setelah 6 hari kerja. Artinya, saat konsul berikutnya hasil tes alergi ini sudah selesai. OK gak papa. Sebelum pulang saya tidak lupa untuk daftar pada pemeriksaan berikutnya. Hari ini dapat oleh-oleh biru lagi di siku tangan kiri. Itung-itung persiapan minggu depan, bakal disuntik 7 kali selama 7 hari berturut-turut.
Berikut rincian biaya yang saya lakukan hari ini:
1. Obat : Rp 172.960
    Hidrotubasi II
      ~ Dis Needle 23G (1)
      ~ Syringe 20 cc Terumo (1)
      ~ Cortison 10/cc Inj (10)
      ~ Kanamycin Inj (1)
      ~ NaCL 9% 25 ml @Dos (1)
      ~ Pronalges Supp / DA (1)
      ~ Fol Cath08 (1)
2. Biaya Umum RS Dr. Obsgyn Klinik Eksekutif : Rp 66.000
3. Histeroskopi Diagnostik : Rp 1.500.000
4. Hidrotubasi - Eksekutif : Rp 704.000
5. Pemakaian Obat Poli Eksekutif : Rp 15.750
6. Lain-lain (Apron) : Rp 3.500
7. Paket Panel Alergi : Rp 1.050.000

     Sekedar tambahan informasi, untuk perbandingan biaya histeroskopi di RS Hermina Depok 1,5 juta (intip saja) dan 2,5 juta (jika ada tindakan), sedangkan biaya histeroskopi di RS Hermina Bekasi 1,75 juta (intip saja) dan 2,9 juta (jika ada tindakan).
     Sekian dulu sharing cerita histeroskopi dan hidrotubasi saya kali ini, terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat. Tetap semangaaatt... :-)

Kamis, 19 Januari 2017

ProgMil Part 7 - Kembali ke Dokter

     Setelah 4 bulan pasca keguguran, akhirnya kami berniat untuk kembali melanjutkan promil kami ke dr. Marly. Bulan ke-4 ini sebenarnya sempat membuat saya berharap, karena tamu yang biasanya datang rutin 29  hari (pasca keguguran) hingga 34 hari baru juga datang. Hampir setiap hari ngetes, tapi hasilnya tetap negatif, hingga akhirnya harapan itu pupus bersamaan dengan datangnya si tamu.
     Well, akhirnya setelah si tamu datang, kami langsung telepon ke RS Hermina Depok untuk mendaftar ke dr. Marly. Pada promil kali ini, kami pindah ke RS Hermina Depok karena cerita teman, bahwa di sana tidak seramai di RS Hermina Bekasi. Hanya saja, praktik dr. Marly di Depok kesemuanya pada hari kerja, bahkan ada yang pagi hari. Untuk itu, memilihlah kami hari Kamis, 19 Januari 2017, bertepatan dengan hari ke-9 saya mens.
     Kami berangkat setelah Ashar, sekitar pukul 15.30. Alhamdulillah perjalanan arah Depok cukup lancar. Sampai di RS sekitar pukul 16.15. Padahal praktik dokter mulai pukul 16.00. Tapi hingga pukul 17.30, barulah dokter datang. Seharusnya kami mendapat nomor antrian ke-5, tapi entah kenapa kami dapat panggilan pertama. Setelah itu dapat cerita bahwa nomor antrian dari perjanjian tidak mempengaruhi antrian panggilan. Jadi tergantung kedatangan.
     Kemudian masuklah kami ke ruang pemeriksaan dokter. Dari beberapa hasil pemeriksaan yang kami bawa, diantaranya hasil laboratorium (hormon, gula, kolesterol), tes ASA, HSG, dan Analisa Sperma, dokter membacanya satu per satu. Kemudian bertanya pada saya, sudah hamil? ada riwayat keguguran? Saya jawab, saya pernah sempat hamil setelah melakukan HSG, namun keguguran diusia kehamilan 11 minggu, dikarenakan janin tidak berkembang.
     Kemudian barulah dokter menjelaskan. Itulah mengapa saya bisa keguguran, hal itu disebabkan dari beberapa hasil yang saya bawa tadi. Kolesterol saya sangat tinggi, ASA saya juga sangat tinggi, sedangkan disaluran tuba saya ada hidrosalping di kanan dan kiri, meskipun tidak sampai menyumbat. Tapi hal itu sudah bisa mempengaruhi kualitas dari sel telur dan sperma yang lewat disaluran tuba saya.
     Untuk itu, ada beberapa tahapan yang harus saya lakukan untuk menyembuhkan atau mengurangi kondisi saya di atas, diantaranya:

  1. Kolesterol tinggi, tentu dengan mengurangi atau bahkan menghindari makanan yang mengandung kolesterol. Pola hidup sehat. Serta diberikan obat yang diminum setiap hari selama 2 bulan, kemudian diminta untuk cek kadar kolesterolnya lagi.
  2. ASA tinggi. Untuk menurunkan ASA, bisa dengan terapi PLI (sel darah putih suami disuntikkan ke istri, gunanya agar tubuh si istri "berkenalan" dengan suami, tidak menganggap sperma suami musuh). Dari anjuran hasil tes, saya dianjurkan untuk terapi PLI sebanyak 3 kali. Namun dr. Marly menawarkan ke saya agar infus Gamaras. Gamaras ini dikatakan lebih efektif menurunkan ASA dari pada PLI, Namun harganya cukup menguras kantong, yaitu sekitar 4 juta untuk sekali infus. Meskipun semua itu tergantung dengan respon tubuh dari setiap orang. (*semoga ASA saya cepat turun)
  3. Hidrosalping bilateral. Dari dokter, saya diminta untuk terapi Diatermi dan suntik antibiotik selama 7 hari berturut-turut. Sebelum itu, mumpung besok itu hari ke-10, besok pagi saya diminta untuk melakukan Histeroskopi (intip rahim) dan Hidrotubasi (tiup rahim).
     Dipikiran saya, saya bingung besok gimana, suami kerja. Pernah denger cerita bahwa kedua tindakan itu sakit, siapa yang akan mengantar saya, gimana saya nanti pulangnya dijalan. Aaaah Bismillah aja. Pasrahkan saja pada Allah.
     Belum selesai sampai di situ, dokter bilang bahwa hormon AMH saya cukup rendah, yaitu hanya 0,8 (bulan Mei 2016). Normalnya 1-1,5. Hormon AMH ini menunjukkan kadar cadangan sel telur saya. Setiap bulan akan semakin turun. Artinya, jika saya tidak segera hamil dan punya anak, kesempatan saya untuk bisa hamil akan semakin kecil. Artinya pula, jika AMH seseorang itu menunjukkan angka 0, maka seseorang itu sudah mengalami menopause.
     Untuk itu, saya diharuskan untuk segera kerja cepat. Hal itu pula yang semakin membuat saya pusing. Banyak serangkaian tahapan yang harus saya lalui. Selain itu, masalah biaya yang harus dikeluarkan, yang tentunya tidak sedikit. Semua ini demi bisa menyambut titipan Allah. Kami hanya bisa berdoa agar diberikan kelancaran.
     Jadi resume target saya berikutnya adalah

  • Jumat, 20 Januari 2017 Histeroskopi dan Hidrotubasi.
  • Mulai Senin, 23 Januari 2017, Diatermi dan suntik antibiotik selama 7 hari.
  • Selasa, 31 Januari 2017, Hidrotubasi ke-2.
  • Setiap hari saya diminta minum obat untuk menurunkan kolesterol selama 2 bulan, kemudian cek kolesterol lagi.
  • Suami setiap hari selama 3 bulan minum obat yang mengandung anti oksidan, guna mempertahankan kualitas sperma.
  • Hari ke-2 mens berikutnya, kontrol untuk mendapat obat penyubur (dicoba alami).
  • Bulan berikutnya (Maret) cek kolesterol dan infus Gamaras, serta kemungkinan akan inseminasi (*semoga bisa alami aja yaaa).
     Sekedar info, hari ini saya konsultasi dengan dr. Marly di poli kebidanan & kandungan umum. Yang umum ini, waktu praktiknya sore, sedangkan jika pagi, dokter praktik di poli eksekutif.
Biaya yang harus dikeluarkan di RS Hermina Depok hari ini, sebagai berikut:
1. Obat suami : Rp 271.800
    - Glisodin (30)
2. Kartu Pasien (karena pasien baru) : Rp 15.000
3. Obat istri : Rp 817.350
    - Hidrotubasi
      ~ Dis Needle 23G (1)
      ~ Syringe 20 cc Terumo (1)
      ~ Cortison 10/cc Inj (10)
      ~ Kanamycin Inj (1)
      ~ NaCL 9% 25 ml @Dos (1)
      ~ Pronalges Supp / DA (1)
    - Diatermi
      ~ Syringe 1 cc Tuberculin (1)
      ~ Syringe 10 cc Terumo (7)
      ~ Aqua for Inj 25 ml (4)
      ~ Ceftriaxon 1 Gr Inj (7)
      ~ Alcohol Prep Pads Steril (8)
      ~ Zemyc 150 Mg Cap (2)
      ~ Metronidazol 500 Mg Tab (15)
      ~ Prodiva Gel 30 Gr (1)
    - Kolesterol
      ~ Simvastatin Tab 20 Mg (30)
4. Konsultasi Dr. Sub Obsgyn Dr. Marly : Rp 297.000
Obat dan Alat Resep Dokter
     Cukup sampai di sini dulu ceritanya, sudah panjang kali lebar. Besok kita sambung lagi cerita berikutnya. Tetap semangat.. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya, serta menambah informasi bagi para pejuang seperti saya. :-)

Minggu, 25 September 2016

Cerita Kehamilan Part 3 - Keguguran

     Semakin hari flek yang saya alami tidak kunjung berkurang, malah semakin bertambah banyak dan memerah seperti warna darah haid. Namun selama itu, saya tidak pernah merasakan sakit atau apa.
     Hari itu, Kamis 22 Septermber 2016, hari paling kelabu. Saya hanya merasa darah yang keluar semakin banyak dan merah. Baru saat suami pulang, saya sedikit mulai merasakan sakit pada perut saya. Saya hanya beranggapan mungkin itu karena efek darah yang keluar itu. Hingga akhirnya setelah kami selesai sholat magrib berjamaah, saya semakin merasa tidak enak, ingin segera ke kamar mandi, saat berdiri itu saya melihat darah yang masih segar tembus ke tempat tidur. Kami sangat kaget. Suami langsung mengajak saya untuk bergegas ke dokter, karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun saya tidak mungkin ke dokter dengan keadaan seperti ini. Saya ijin untuk bersih-bersih dulu. Dan hal yang tidak kami inginkan itu benar-benar terjadi. Gumpalan darah sekitar sebesar jempol tangan keluar dari vagina saya. Seketika itu saya teriak dan menangis sejadi-jadinya. Saya belum siap untuk benar-benar kehilangan calon anak kami. Dan darah pun mengucur semakin banyak. Butuh beberapa saat, suami untuk menenangkan saya. Saya benar-benar tidak siap.
     Akhirnya setelah saya bersih-bersih kami langsung pergi ke RS JMC. Kebetulan malam itu Dr. Mariza sedang praktik. Setelah menunggu cukup lama, kami akhirnya masuk ke ruangan dokter sekitar pukul 20.30. (mengingatkan cerita sebelumnya, saya seharusnya kembali ke dokter hari sabtu 24 september 2016, namun saya sudah kembali ke dokter pada hari kamis) Dokter langsung bertanya, ada apa bu? tambah parah? Saya jawab iya dok, malahan tadi keluar gumpalan, darah yang keluar jg sangat banyak. Dokter bilang, kita USG bawah dulu ya bu. Saya kaget, dan menjawab, tapi dok, darahnya keluar gak bisa berhenti. Mana mungkin bisa diperiksa dari bawah? Dokter menjawab, gak papa. kalau tidak begitu hasilnya kurang jelas. Akhirnya saya pasrah.
     Dan benar, seperti yang tidak kami inginkan, dokter mengatakan janin saya sudah tidak ada. Tidak dapat dipastikan apakah yang sudah keluar pada saat kami masih dirumah, atau yang akan saya ceritakan setelah ini. Kemudian dokter meminta pindah ke ruang tindakan di sebelah, karena saya mau dibersihkan dan dimasukkan obat untuk merangsang kontraksi rahim, agar bisa membersihkan sisa-sisa jaringan yang menempel tanpa harus di kuret. Saya jujur merasa tidak enak karena darah saya sampai di tempat tidur pemeriksaan.
     Saat itu juga saya hanya bisa pasrah dan tidak keluar air mata sedikit pun. Saya berpindah ke ruang tindakan, suster menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Saat dokter periksa, ternyata ada gumpalan yang jauh lebih besar yang akan keluar. Dokter berusaha untuk mengeluarkan gumpalan itu, sampai perut saya juga ikut ditekan oleh suster agar gumpalan itu keluar. Benar-benar besar, berukuran sekitar hati ayam, warnanya merah segar permukaannya halus sekali. Setelah ditunjukkan oleh suster, kemudian gumpalan itu dibuang. Setelah sampai dirumah, saya menyesal kenapa tidak saya minta untuk dibawa pulang?
     Setelah bersih, kembali ke ruang pemeriksaan. Dokter menjelaskan bahwa saya tidak jadi diberi obat, karena pendarahan sedang keluar banyak-banyaknya. Saya diminta untuk bersabar. Mungkin rejekinya belum sekarang, insyaallah nanti akan diganti lagi. Saya hanya mengangguk mengiyakan. Saya sudah mulai tidak konsen dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Perut saya mulai kontraksi, dan itu berlangsung terus tanpa jeda hingga pukul 22.30. Saya diminta untuk kembali lagi hari sabtu, untuk mengecek apakah jaringan-jaringan yang menempel pada rahim saya sudah bersih atau belum. Jika sudah bersih, saya tidak perlu dikuret, sedangkan jika belum bersih, maka harus dikuret. Dokter juga berpesan supaya saya beraktifitas seperti biasa agar dapat memicu rahim kontraksi dan membersihkan dirinya sendiri.
     Kami sampai dirumah sekitar pukul 21.15. Dan setelah sampai dirumah, kontraksi itu benar-benar hebat. Sakitnya sampai tembus ke pinggang, rasanya sama sekali tidak enak. Tidak ada posisi yang bisa mengurangi sakitnya. Ditambah lagi dengan kepala saya yang sedikit kliyengan. Mungkin itu karena saya mengalami pendarahan yang banyak, sehingga saya kurang darah. Saya terus berusaha untuk tidur disela-sela kesakitan yang saya rasakan. Hingga akhirnya saya bisa tertidur sekitar 1 jam, dan terbangun sekitar pukul 11 malam, dan baru bisa tidur kembali sekitar pukul 2 dini hari karena sakitnya datang lagi, namun dengan tingkat yang lebih ringan. Kemudian terus sakit hingga jumat malam.
     Jumat pagi bangun tidur, akhirnya keluar lagi gumpalan sebesar gumpalan semalam, tapi dengan permukaan yang tidak sehalus itu dan warnanya merah keputihan, bukan merah segar, Saat sore harinya saya juga memegang seperti ada yang mau keluar lagi gumpalannya, namun hingga sabtu pagi ke dokter, belum juga keluar lagi. Akhirnya setelah saya ceritakan ke dokter, dokter memeriksanya dan dapat mengeluarkan gumpalan yang saya jelaskan tadi. Tidak terlalu besar, warnanya juga seperti yang keluar kemarin pagi. Mungkin itu sisanya kemarin yang belum keluar.
     Dari hasil USG hari Sabtu kemarin, terlihat bahwa abortusnya sudah komplit, alias jaringan-jaringannya sudah bersih, jadi tidak perlu dikuret. Hanya tinggal darah saja, kemungkinan saya akan tetap mengeluarkan darah selama 1 minggu, seperti nifas kata dokter. Namun rahim saya belum kembali ke bentuk semula masih terbuka. Butuh waktu hingga akhirnya rahim saya kembali ke bentuk semula. Saya hanya diberi obat untuk membersihkan darah di rahim saya, dan diminta kembali lagi ke dokter 2 minggu lagi.
Kondisi rahim pasca keguguran
     Harus tetap semangat meskipun berat, harus yakin bahwa Allah sudah menyiapkan yang lebih baik.
Terima kasih sudah membaca, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain.

Minggu, 18 September 2016

Cerita Kehamilan Part 2 - Janin Tidak Berkembang

     Sejak 3 hari terakhir, saya mengalami flek. Awalnya hanya kekuningan, lama-lama semakin kecoklatan. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya saya dan suami segera pergi ke dokter. Kami tidak lagi ke RS KMC, dikarenakan jika kita ingin periksa ke KMC harus melakukan perjanjian dulu dan dokter hanya dibatasi 10 pasien. Jadi karena saya belum melakukan perjanjian, kami memutuskan untuk datang ke RS JMC, kita bisa kapan saja datang, selama ada dokter praktik.
     Di JMC, saya memilih untuk bertemu dengan Dr. Mariza, SpOG. Beliau sabar, keibuan dan menjawab semua pertanyaan kami dengan baik, namun ada satu hal yang kurang berkenan, nanti akan saya ceritakan. Saya katakan pada dokter bahwa saya sudah 3 hari mengalami flek. Seperti dokter-dokter yang lain saya selalu ditanya kapan terakhir haid. Berdasarkan perhitungan terakhir haid, kehamilan saya masuk 10 minggu, namun jika mengacu pada pemeriksaan dengan Dr. Dwi sebelumnya, kehamilan saya baru masuk 8 minggu. Kemudian dokter meminta saya bersedia di USG.
     Dengan USG perut ini, terlihat bakal janin saya. Namun dikatakan tidak terlalu jelas. Kemudian saya diminta untuk USG Transvagina. Dari situ bakal janin saya terlihat jelas. Namun ada sedikit masalah. Jika seharusnya usia kehamilan saya 8 minggu, maka seharusnya sudah tampak detak jantung janin. Namun dari hasil USG ini belum tampak detak jantungnya. Sedangkan dari ukuran kantong dan bakal janin, dokter mengatakan masih berusia 5 minggu. Pertanyaan saya, kok bisa? kan dari periksa sebelumnya sudah berjarak 4 minggu, kenapa hanya bertambah 1 minggu saja. Dokter juga tanya apakah haid saya tidak teratur? Dikatakan itu juga bisa menjadi salah satu penyebabnya.
CRL (ukuran janin) 0,76 cm
    Dokter juga mengatakan, bisa jadi janin saya tidak berkembang. Itu yang saya tidak suka. Saya diminta untuk kembali kontrol minggu depan untuk mengetahui perkembangannya. Minggu depan, ukuran janin saya harus sudah lebih besar dan tampak detak jantungnya. Jika tidak, berarti benar janin saya tidak berkembang dan tentunya harus dikuret agar tidak menimbulkan masalah baru. Saat itu juga saya merasa down. Seharusnya saya senang karena kehamilan saya masuk usia 8 minggu, tapi ternyata janin saya masih tetap berusia 5 minggu. Apa yang salah?
     Dikatakan oleh dokter, kemungkinan saat terjadi pembuahan, sperma dan sel telur kami yang bertemu adalah bibit yang kurang baik, sehingga bisa menimbulkan janin tidak berkembang, atau juga karena kromosom kami. (Jika ingin tahu penjelasan tentang janin tidak berkembang bisa baca di sini) Saya hanya dianjurkan untuk mengkonsumsi obat penguat rahim dan asam folat, agar tetap menjaga kehamilan saya. Kemudian kami pulang dengan perasaan yang cukup terpukul.