Tab Menu

Sabtu, 06 Juni 2020

Melahirkan Ditengah Pandemi Covid-19 _ Part 2

Lanjutan Part 1

     Sekitar pukul 11 malam, saya mulai diberi obat pereda nyeri lewat cairan infus. Katanya tidak langsung bereaksi, tapi berangsur-angsur. Sejam, dua jam, tiga jam, masih terasa sakitnya. Tidak ada berkurangnya. Sampai akhirnya suster datang lagi membawa obat pereda nyeri yang (maaf) dimasukkan an*s. Biasanya obat yang dimasukkan an*s itu reaksinya cepat. Obat diberikan sekitar pukul setengah 3 pagi, sekalian pemeriksaan dalam yang terakhir, ternyata sudah pembukaan 3. Setengah jam, tetap sakit, sejam masih sama, sampai waktunya sahur pun suami tidak saya perbolehkan pergi beli makan, karena harus menemani saya, mengusap-usap pinggang saya yang sakit saat kontraksi itu datang, hingga akhirnya dia hanya minum air putih tidak makan sahur.
     Obat yang dimasukkan an*s pun juga tidak mempan pada tubuh saya. Saya terus merasakan sakitnya kontraksi. Makin teratur, makin sakit, tapi saya harus cesar. Sakitnya itu dobel-dobel. Saya masih berharap ada keajaiban, pembukaan saya segera lengkap dan bisa lahiran normal. Namun itu tidak juga terjadi. Pukul 6 pagi saya sudah diminta ganti baju operasi. Rasanya dag dig dug. Ini pengalaman pertama saya operasi (semoga tidak pernah lagi). Pukul 7 kurang 10, suster mengantar saya ke ruang operasi dengan kursi roda. Suami hanya mengantar sampai depan pintu ruang operasi dan kembali ke IGD untuk istirahat. Saya tahu dia juga pasti lelah dan ngantuk karena tidak tidur semalaman menemani saya. Tidak lupa salim sama suami, cipika cipiki, kemudian saya masuk ruang operasi.
     Di ruang operasi saya langsung diminta untuk tiduran di meja operasi. Tapi tidak sampai 5 detik, kontraksi itu datang lagi. Saya ijin untuk duduk saja, sambil menunggu persiapan karena kalau dipakai tiduran, saya tidak kuat dengan sakitnya. Suster pun meng-iyakan, kemudian suster keluar lagi untuk mengurus persiapannya. Saya ditinggalkan sendirian di ruang operasi yang sangat dingin. Ruangan yang tidak pernah saya bayangkan untuk saya masuki. Saya melihat-lihat sekeliling sambil menggigil kedinginan. Ruangannya sangat terang, bersih, penuh perlengkapan operasi, dan sangat dingin.
     Sekitar 5 menit, para tim dokter dan suster masuk ruang operasi. Bersiap-siap memakai APD. Suster memeriksa dan menyiapkan perlengkapan operasi yang dibutuhkan. Di samping saya sudah mulai bertugas dokter anastesi dibantu asistennya. Saya mulai disuntikkan anastesi. Hingga terakhir kalinya saat saya diminta untuk berbaring, saya masih merasakan kontraksi untuk terakhir kalinya. Saat berbaring, rasanya perut mulai hangat, kemudian menjalar ke kaki. Hanya bius lokal perut ke bawah. Jadi tangan dan kepala masih sadar. Saya sempat bertanya pada dokter, “kok saya masih bisa merasakan ada sesuatu di atas perut saya ya dok? Kaki saya juga masih terasa jika dipegang”. (Saya takut kalau anastesinya belum benar-benar bereaksi, tapi dokter sudah membelek perut saya. Mulai parno sendiri kan). Kemudian dokter menjawab,” iya memang begitu bu. Ini masih terasa?” (sambil menyentukan entah apa ke perut saya). “Iya terasa”, jawab saya. Dokter tanya lagi, “itu tadi diapain bu?” “Nggak tahu dok”. “Coba sekarang ibu gerakin kaki, angkat kakinya, bisa ga?” Ternyata, “nggak bisa dok”. Dokternya ketawa. Baiklah, percaya saja sama dokter. Sambil terus baca doa-doa.
     Proses pengeluaran bayinya begitu cepat, sekitar 5 menit sudah keluar. Sebenarnya saya bisa lihat perut saya yang dibelek lewat pantulan papan lampu di atas saya, tapi daripada saya takut sendiri, saya lebih memilih menoleh lihat jam dinding. Setelah bayi saya dibersihkan, suster menunjukkan bayi saya sekilas, sambil mengatakan bayinya perempuan, beratnya xx, panjangnya xx. Sudah. Langsung dibawa pergi lagi untuk dimasukkan ke dalam inkubator. Itulah saat saya bertemu dengan bayi saya untuk pertama kalinya, dan baru bertemu lagi setelah 3 hari kemudian sebelum pulang keluar dari rumah sakit.
     Setelah itu saya tidak sadar, saya sangat ngantuk sekali karena hampir 24 jam tidak tidur. Tubuh bagian atas saya juga menggigil kedinginan karena suhu ruangan operasi yang menurut saya sangat dingin. Saya tertidur sekitar 30an menit, sampai saya terbangun saat akan dipindahkan ke ruang pemulihan, sekitar pukul 8. Di ruang pemulihan saya kembali menggigil, bahkan makin menjadi, karena efek dari bius itu tadi. Diselimuti tebal pun masih menggigil. Saya juga sempat muntah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa tiduran tanpa bisa bergerak. Alhamdulillah ditolong dan dibersihkan oleh susternya. Kemudian saya kembali tertidur, kali ini lebih pulas. Baru bangun sekitar pukul 10, ketika akan dipindahkan ke ruang perawatan.
Di ruang pemulihan
     Saya harus menggunakan ruang perawatan yang sendiri, karena status saya sebagai PDP. Artinya saya harus mengambil ruangan di atas kelas I, dengan kata lain kami juga harus membayar lebih, karena awalnya kami berencana untuk mengambil kelas I atau II.


Lanjut Part 3 >>>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar